Mengetahui
Para Sahabat
1.
Definisi Sahabat
a.
Menurut Bahasa: Sahabat itu bentuk mashdar yang
berarti as-shuhbah (bersahabat). Dari situ muncul kata as-shahabi, as-shahib,
bentuk jamaknya adalah ashhab. Yang banyak digunakan adalah kata as-shahabat,
yang berarti ashhab (para sabahat).
b.
Menurut Istilah: Orang yang bertemu dengan Nabi SAW,
muslim, dan meninggal dalam keadaan Islam, meski di masa hidupnya pernah
murtad.
2.
Dengan Apa Pertemanan Para Sahabat DIkenal
Persahabatan
mereka dapat diketahui melalui salah satu dari lima cara:
a.
Berita yang Mutawatir: Seperti Abu Bakar
as-Shiddiq dan Umar bin Khaththab, dan 10 orang yang dijamin masuk surga.
b.
Popularitas: Seperti Dlimam bun Tsa’labah, ‘Ukasyah
bin Mihshan.
c.
Berita dari sahabat
d.
Berita dari Tabi’in yang tsiqah.
e.
Berita dari dirinya sendiri asalkan dia adil, itupun
selama pengakuannya memungkinkan.
3.
Yang terbanyak meriwayatkan hadits
Ada
6 orang sahabat yang banyak meriwayatkan hadits, yaitu:
a.
Abu Hurairah, yang meriwayatkan 5374 hadits. Dari
beliau lebih dari 300 orang yang meriwayatkan.
b.
Ibnu Umar, yang meriwayatkan 2630 hadits.
c.
Anas bin Malik, yang meriwatkan 2286 hadits.
d.
Aisyah Ummul Mukminin, yang meriwayatkan 2210 hadits.
e.
Ibnu Abbas, yang meriwayatkan 1660.
f.
Jabir Abdullah, yang meriwayatkan 1540 hadits.
4.
Yang terbanyak berfatwa
Diriwayatkan
bahwa yang palimg banyak berfatwah adalah Abdullah bin Abbas, kemudian para
sahabat senior sebanyak enam orang- menurut Masruq, yaitu: Ujungnya ilmu para
sahabat ada pada 6 orang yaitu, Umar, ali, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu
Darda dan Ibnu Mas’ud; kemudian berakhir ilmu para sahabat itu pada diri Ali
dan Abdullah bin Mas’ud.
5.
Siapa yang dimaksud dengan Abadilah
Yang
dimaksud dengan Abadilah, pada dasarnya merupakan nama mereka, yaitu: Abdullah,
berasal dari kalangan sahabat. Jumlah sahabat yang memakai nama itu sekitar 300
orang. Tetapi yang dimaksudkan disini ditunjukkan pada 4 orang sahabat saja,
yang namanya Abdullah:
a.
Abdullah bin Umar
b.
Abdullah bin Abbas
c.
Abdullah bin Zubair
d.
Abdullah bin Amru bin al-Ash
Keistimewaan mereka, karena mereka itu adalah ulamanya
para sahabat, yang wafatnya termasuk pada periode akhir sehingga kita perlu
mengetahuinya. Keistimewaan dan popularitas mereka, apabila mereka sepakat
dalam suatu perkara dalam bentuk fatwa, maka akan dikatakan sebagai qaul
Abadilah (pendapat Abadilah).
6.
Jumlah Sahabat
Tidak
ada perhitungan yang akurat mengenai jumlah para sahabat. Meski demikan ada
pendapat ahli ilmu yang bisa dijadikan sebagai sandaran, bahwa mereka itu lebih
daro 100.000 orang. Yang terkenal diantaranya adalah pernyataan Abu Zur’ah
ar-Razi: Rasulullah saw meninggalkan para sahabat yang berjumlah 114.000 orang,
dimana mereka adalah orang-orang yang meriwayatkan dan mendengar (hadits)
beliau.
7.
Jumlah Thabaqat Sahabat
Terdapat
perbedaan pendapat mengenai jumlah Thabaqat para sahabat. Diantara mereka
dibuat kategori berdasarkan yang awal memeluk Islam, atau yang turut berhijrah,
atau kesaksian mereka dalam berbagai peristiwa penting, dan berbagai
pertimbangan lain. Pembagian-pembagian itu berdasarkan pendapat atau ijtihad
para ulama.
a.
Ibnu Sa’ad membagi mereka dalam lima Thabaqat
b.
Al-Hakim membagi mereka dalam dua belas Thabaqat
8.
Sahabat yang utama
Sahabat
yang paling utama adalah Abu Bakar as-Shiddiq, kemudian Umar ra. Ini
berdasarkan Ijma (kesepakatan) ahli sunnah. Kemudian Utsman, lalu Ali. Ini
menurut pendapat jumhur ahli sunnah. Kemudian 10 orang (yang dijamin masuk
surga), lalu peserta perang Badar, setelah itu peserta perang Uhud, dan peserta
Bai’at ar-Ridlwan.
9.
Yang pertama masuk Islam
a.
Dari kalangan lelaki yang merdeka: Abu Bakar
as-Shiddiq ra.
b.
Dari kalangan anak-anak: Ali bin Abi Thalib
c.
Dari kalangan wanita: Khadijah Ummul Mukminin ra
d.
Dari kalangan maula (bekas budak): Zaid bin Haritsah
e.
Dari kalangan hamba sahaya: Bilal bin Rabah ra
10. Kitab yang
populer
a.
Al-Ishabah fi Tamyizi as-Shahabat, karya Ibnu Hajar
al-Asqalani
b.
Usud al-Ghabah fi Ma’rifati as-Shahabah, karya Ali bin
Muhmmad al-Jazri, yang populer dengan nama Ibnu al-Atsir
c.
Al-isti’ab fi Asma al-Ashhab, karya Ibnu Abdil Barr[1]
Mengetahui
Para Tabi’in
1.
Definisi
a.
Menurut bahasa: at-Tabi’un merupakan bentuk jamak dari
kata tabi’I atau tabi’. Tabi’ adalah ism fa’il dari kata tabi’ahu yang berarti
berjalan dibelakangnya.
b.
Menurut istilah: orang yang berjumpa dengan sahabat,
muslim dan meninggal dalam keadaan Islam. Dikatakan bahwa dia adalah teman dari
sahabat.
2.
Thabaqat Tabi’in
Terdapat
perbedaan pendapat mengenai thabaqat para tabi’in. Masing-masing ulama
membagi-baginya berdasarkan pertimbangan tertentu.
a.
Imam Muslim membaginya jadi tiga thabaqat.
b.
Ibnu Sa’ad membaginya jadi empat thabaqat.
c.
Al-Hakim membaginya jadi lima belas thabaqat. Yang
utama adalah orang-orang yang pernah berjumpa dengan sepuluh sahabat (yang
dijamin masuk surga).
3.
Mukhadlramun
Jika
satu orang disebut dengan mukhadlram. Mukhadlram adalah orang yang hidup dimasa
jahiliyah, semasa dengan Nabi saw, memeluk Islam, namun tidak pernah berjumpa
dengan beliau saw. Ada pendapat bahwa mereka itu termasuk tabi’in.
Jumlah mereka sekitar dua puluh
orang. Ini menurut pendapat Imam Muslim. Namun, yang benar adalah jumlahnya
lebih banyak dari itu. Mereka itu diantaranya, Abu Utsman an-Nahdi dan Aswad
bin Yazid an-Nakha’i.
4.
Fuqoha yang tujuh
Diantara
tabi’in senior adalah fuqoha tujuh. Mereka ini merupakan ulama tabi’in yang
paling senior. Semuanya penduduk madinah. Mereka itu adalah Sa’id bin Musayyab,
Qasim bin Muhammad, Urwah bin Zubair, kharijah bin Zaid, Abu Salmah bin
Abdurrahman, Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah, dan Sulaiman bin Yassar.
5.
Tabi’in yang paling utama
Terdapat
berbagai pendapat para ulama mengenai tabi’in yang paling utama. Namun yang
populer adalah bahwa yang paling utama, Sa’id bin Musayyab. Menurut pendapat
Abu Abdullah Muhammad bin Khafif as-Syairazi:
a.
Penduduk Madinah mengatakan: Sa’id bin Musayyan itu
tabi’in yang paling utama.
b.
Penduduk Kufah mengatakan: Uwais al-Qarni.
c.
Penduduk Bashrah mengatakan: Hasan Bashri.
6.
Tabi’in Wanita Yang Paling Utama
Abu
Bakar bin Abu Daun berkata: tabi’in wanita yang paling utama adalah Hafshah
binti Sirin, dan Amrah binti Abdurrahman, disusul oleh Ummu Darda.
7.
Kitab yang Populer
Kitab
Ma’rifatu at-Tabi’in, karya Abi Mathraf bin Futhais al-Andalusi.[2]